oleh

Rumpun Keluarga Lelewawo Minta Muksin Segera Bayarkan Royalti dan Persoalkan SKT diatas Tanah Leluhur Paka-Paka Andomo.

-HUKUM-64 views

Kolaka Utara- radartenggara.co.id-

Aktivitas pertambangan Eks Platinum yang berada di wilayah Desa Musiku Kecamatan Batu Putih, Kab. Kolaka Utara (Kolut) Sulawesi Tenggara (Sultra), menuai kontroversi dari pemilik lahan Paka-Paka Andomo rumpun keluarga Lelewawo dengan Muksin (Muke), Rabu (18/8/21).

Pasalnya rumpun keluarga Lelewawo sebagai Pemilik Lahan menuntut pembayaran royalti kepada Muke Rp. 270.000.000 (dua ratus tujuh puluh juta rupiah). Hal ini berdasar pada kesepakatan awal antara Muke dan rumpun yakni Rp. 10.000 per metrik ton nya.

“Ketua rumpun Sudding menjelaskan sebelumnya Muksin (Muke) dipercaya pihak rumpun untuk menambang di lahan rumpun tersebut dan sudah membayar royalti senilai Rp. 128.000.000 (seratus dua puluh lapangan juta) ke rumpun, tapi sebagian besar keluarga rumpun dari 9 rumpun menolak nilai tersebut, karena kami ingin sesuai kesepakatan,” ujarnya.

Jadi nominal di atas itu hanya sekitar dua rumpun yang menikmatinya. Nah oleh karenanya, pihak rumpun tetap menuntut pembayaran royalti harus bisa dirasakan semuanya.

Di samping itu, kata Sudding mediasi sempat kita lakukan namun faktanya Muksin atau Muke tidak bersedia dan tentunya ini mendapat protes keras dari rumpun untuk melakukan penahanan kegiatan pemuatan holing ore nikel hasil penambangan dari lahan rumpun maupun pemuatan ke kapal tongkang.

“Sebab rumpun menilai area lahan ini adalah tanah leluhur Paka-Paka Andomo di mana di dalamnya ada 9 rumpun pemilik lahan bukan milik pribadi atau perseorangan,” tegas Sudding.

Lebih jauh pihak rumpun setelah kita mengetahui bahwa lahan tambang ini ada yang mengklaim sudah milik perseorangan dalam hal ini Muksin.

Berdasarkan SKT tahun 1997 yang ia miliki saat ini dinilainya sangat bertentangan dengan sejarah dan asal usul tanah rumpun yang selama ini kami dari keluarga lelewawo mempertahankan tanah leluhur Paka-Paka Andomo.

Di ketahui isi SKT yang dimiliki oleh Muksin ini luasnya sekitar 19 hektar.

Setelah menuntut pembayaran royalti yang tak kunjung selesai ditambah dengan Muksin mengklaim tanah leluhur atau lahan rumpun keluarga sejak dulu itu menjadi kepemilikan atas nama pribadinya maka ini jelas akan mengundang reaksi serius dari rumpun.

“Kami dari pihak rumpun keluarga akan melakukan upaya penahanan seketika ore nikel tersebut di muat ke tongkang dari hasil tambang di lahan leluhur kami sebagai bentuk menolak alibi Muksin atau yang lebih akrab disapa Muke
sampai persolan ini terselesaikan,” tutur Sudding.

Karena menurutnya muke itu status nya kan penambang dan komitmen sebagai bagian dari rumpun juga dia harus memahami. Yang pasti rumpun bersikap kontroversi ini belum ada kata terlambat untuk diselesaikan.
“Kendati saudara Muksin alias Muke tidak membayar royalti lahan rumpun maka kami dari 9 rumpun akan melaporkan kepada pihak penegak hukum,” tatup rumpun keluarga.(Sila)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed